Tuesday, November 08, 2005

Puasa dan Loyalitas Keimanan

Oleh: Al Birruni Siregar*)

Dalam QS.Al Baqarah: 183 Allah Swt berfirman: "Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu kutiba `alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba `alladziina min qoblikum la'allakum tattaquun";"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang yang bertakwa".
Puasa di bulan ramadhan adalah salah satu dari lima pilar rukun islam. Digolongkannya ibadah ini sebagai salah satu syarat tegaknya keislaman seseorang menjadi poin penting dalam membangun kecerdasan rohani.

Puasa yang dalam bahasa arab disebut shiyam atau shaum, mengandung makna menahan atau mencegah diri melakukan sesuatu dalam rentang waktu tertentu (al-imsaak wal kaffu `an asy-syai'). Sedangkan puasa dalam istilah syar'i menurut Dr.Wahbah Al Zuhaily, adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh suami isteri (jima') serta berbagai hal yang merusaknya atau membatalkannya dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Dalam konteks ayat diatas Allah menyeru "Ya ayyuhalladziina Aamanuu"; "Wahai orang-orang yang beriman".Salah satu sahabat nabi, seorang mufassir terkenal Abdullah ibnu Mas'ud mengatakan, bahwa apabila suatu ayat dimulai dengan panggilan kepada orang yang terpercaya, sebelum sampai ke akhirnya, kita sudah dapat memastikan bahwa ayat ini akan mengandung perihal yang penting atau suatu larangan yang berat. Karena Allah Yang Maha Tahu (Al `Aliim) telah memperhitungkan bahwa yang bersedia memikul perintah Tuhannya hanya orang – orang yang beriman. Buya Hamka dalam karyanya tafsir Al Azhar mengatakan bahwa orang yang merasa dirinya ada benih keimanan bersedia menunggu, apa perintah yang akan dipikulnya itu. Dan dia akan bersedia merubah kebiasaannya, menahan nafsunya dan bersedia pula bangun di waktu sahur serta menahan seleranya membatasi diri melakukan latihan yang agak berat, demi mencapai keridhaan Tuhannya.

Kata "Kamaa kutiba `alalladziina min qoblikum" ; "Sebagaimana telah diperintahkan kepada umat-umat sebelum kamu", mengindikasikan bahwa perintah puasa telah ada sejak dahulu, sebelum diutusnya Muhammad saw dalam risalah kenabian.

Sebagaimana Nabi Musa a.s pernah berpuasa 40 hari. Begitu pula orang-orang Yahudi masih tetap melakukan puasa pada hari-hari tertentu, seperti puasa satu minggu sebagai peringatan hancurnya Jerussalem dan diambilnya kembali. Begitu juga, puasa umat Kristen yang terkenal yaitu Puasa Besar sebelum hari paskah. Dalam agama Mesir purbakalapun juga ada peraturan puasa, terutama pada kaum perempuan. Demikian halnya bangsa Romawi sebelum masehipun berpuasa. Begitupun dahulu, Nabi Zakaria a.s dan Maryam, ibunda nabi Isa a.s berpuasa dari tidak makan, tidak minum, tidak bersetubuh dan juga tidak berbicara pada rentang waktu tertentu.

Adapun hikmah dan faedah dari menunaikan ibadah puasa adalah menciptakan kepribadian yang bersendikan taqwa ("la'allakum tattaquun"). Takwa yang dihasilkan dari menahan dua syahwat yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, yaitu syahwat faraj atau sex, dan syahwat perut. Seandainya keduanya tiada terkendali, maka tidak mustahil kemanusiaan (humanity) dari manusia akan merosot, runtuh, dan hancur bertukar menjadi kebinatangan. Dalam hal ini,puasa memberikan kendali bagi manusia dalam meningkatkan harga dirinya. Tiada yang berarti dari nilai puasa itu selain dari kesabaran yang tinggi, sebagaimana rasulullah saw bersabda: "Ash-shiyamu nishfu shabr";"Puasa adalah separuh dari kesabaran" (HR.Ibnu Majah).

Ramadhan adalah bulan penuh hikmah, bertabur berkah, bersemi didalamnya suasana hari bernuansakan keindahan, kesejukan dan kedamaian yang tiada terkira keutamaannya dibandingkan dua belas bulan lainnya. Bulan yang penuh dengan kenangan-kenangan bersejarah. Diturunkannya al Qur'an sebagai kitab suci petunjuk bagi ummat manusia, diutusnya seorang Muhammad saw, manusia suci yang sarat kesempurnaan, sebagai nabi dan rasulNya. Terjadinya kemenangan terbesar umat islam dalam sejarah peperangan pada medan badar. Dimuliakannya satu malam Qodar, yang memiliki keutamaan berlimpah pahala, yang mana nilai ibadah pada malam itu sebanding dengan ibadah dalam seribu bulan. Semua peristiwa itu terjadi dalam bulan yang sama, yaitu bulan suci ramadhan.

Allah swt telah memilih bulan ini sebagai bulan puasa. "Ayyaaman ma'duudaat", yaitu puasa pada hari-hari yang
terbilang. Bulan yang membimbing hamba-hambaNya larut dalam ketekunan beribadah, menahan diri dari kenikmatan makan, kesegaran air minum pengentas dahaga, serta kepuasan berjima' suami dan istri pada siang hari. Ada dimensi kedisiplinan, ada pula aspek ketaatan. Tiada hal yang dapat menjamin utuhnya ketaatan dan kedisiplinan itu, selain berpangkal dari niat ikhlas dan sabar yang tak lekang dengan bertumpu
pada loyalitas keimanan.(God as a single purpose).

Maka dari itu, bersamaan dengan hadirnya kembali bulan ramadhan ini, mari kita mulai luruskan tujuan, kita pertahankan nilai suci dari ibadah dengan memurnikan niat semata karena Allah `Azza wa Jalla, untuk kemudian kita raih bersama predikat takwa. Yakni takwa dalam koridor makna sebenar-benarnya takwa, yang tidak hanya tersekat dalam ruang dan waktu yang bernama ramadhan, namun berlanjut seterusnya selepas bulan ini berlalu. Memulai suatu kebaikan adalah mudah, namun menjaganya dalam kontinuitas dan istiqomah (konsistensi) membutuhkan niat ikhlas dan kesabaran. Tulus dan ikhlas adalah awal dari kebaikan, sedangkan kesabaran akan terus mengiringi berjalannya kebaikan itu.

Allahu A'lam bish-shawaab.

*)Mahasiswa program S1 Fakultas Ushuluddin, Dept.Tafsir, Universitas Al Azhar, Kairo.

Lebaran Cara Rasulullah

Oleh Bayu Gawtama

Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan
penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di
wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali
meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki
melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah
lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu
segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan
saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki
terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan.
"Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?"
lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik
segukan sang gadis.

Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang
menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu
seperti mencari sesosok yang amat ia rindui
kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia
menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk
merayakan hari kemenangan. "Ayahku mati syahid dalam
sebuah peperangan bersama Rasulullah," tutur gadis
kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang
Ayahnya.

Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. "Maukah
engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad
Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan
serta Husain menjadi saudaramu?" Sadarlah gadis itu
bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak
lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang
senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak
ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu
seorang Ummul Mukminin?

Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil
yang bersedih di hari raya kembali tersenyum.
Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta
dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak
yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya
untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah
airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.


***

Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian
bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat
bersilaturahim di hari kemenangan itu. Namun tak dapat
dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita,
memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin
budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa Rasul pun
memakai pakaian yang bagus di hari raya. Tidak sedikit
uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran, bahkan
bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru
disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di
Indonesia yang lebih dari satu hari.

Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil
sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan
bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik.
Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita
menggapai sukses penuh arti selama satu bulan
menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena,
bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara
berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan,
yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian
yang lebih pantas di hari istimewa.

Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang
baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan
sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa
cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan
pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan
pakaian baru untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau
Ibu yang akan mengajak mereka menyambangi pertokoan
dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah kita
bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh
rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru,
sementara baju yang mereka kenakan sudah usang.

Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran,
tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju
bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan
Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan
hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah
kita meniru cara Rasul berlebaran?

Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk
anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari
rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian
bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim
tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak
hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu juga
milik mereka.

Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul).
Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya
di berbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi
orang-orang beruntung seperti kita yang mau
membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak
yatim yang tercipta di hari bahagia.

Monday, October 03, 2005

Ramadhan di hati Ramadhan di nanti

Oleh: Al Birruni Siregar*)

Tidak kita sangka, bulan ramadhan datang kembali menemui kekasih-kekasih Allah di bumi ini. Bulan yang penuh berkah, rahmah, dan maghfirah kembali menghampiri kita, kaum muslimin sedunia. Bulan yang mana segala perilaku baik bernilai ibadah, yang dilipatgandakan ganjarannya. Bulan yang mana hamba-hamba Allah yang beriman, tekun beribadah mengharap ridhoNya. Bulan yang mana terukir sejarah diturunkan Al-Qur’an, petunjuk bagi semesta alam. Bulan yang mana manusia-manusia yang beriman dimanjakan dengan doa-doa yang mereka panjatkan senantiasa dalam pengabulanNya. Dan yang lebih spesifik dari bulan ini adalah laitul qadar, yaitu malam yang diberkahi oleh Yang Maha Pengasih, dimana kadar kebaikan yang ditunaikan dalam satu malam ini setara dengan seribu bulan.

Ramadhan, begitu Sang Khaliq menyematkan nama untuk sekuntum bunga harapan, yang menebarkan wewangian rahmat dan maghfirah dariNya, membangkitkan semangat para mujahid fi sabilillah. Ramadhan, demikian Dzul Jalali wal Ikram membubuhkan nama untuk bulan ke sembilan dari keduabelas bulan dalam tahun hijriyah al-qomariyah, meredakan kericuhan antar sesama, meleburkan hati yang panas dengan angin segarnya, dan meruntuhkan keegoan diri dengan saling bersalam-salaman usai tarawih berjamaah. Ramadhan, begitulah Ar-Rahman menamakannya, "sayyidusy syuhuur wa taajun ‘ala mufarriqil ayyaami wad duhuur"; "tuan dari seluruh bulan dan mahkota yang menjadi pembeda dan pemisah sepanjang hari dan masa". Ramadhan, kesejukanmu bagaikan musim semi bagi insan yang bertakwa, yang telah menebar pesona keharuman dan kenikmatan. Ramadhan, "anta yuusufuz zamaan fi ‘aini ya’quubil iimaan" ;engkau bagaikan Yusuf a.s sepanjang zaman di mata Ya’qub yang sarat akan nuansa iman, keelokanmu yang rupawan, telah mencuri hati insan yang beriman.

Wahai Ramadhan, kini kami ucapkan "Ahlan wa Sahlan wa Marhaban Yaa Ramadhan"; "Selamat datang wahai bulan jelita yang membawa cerita penuh suka cita, kami selalu menantimu dalam harapan menyongsong kehidupan kelak yang kekal abadi".

1. Sambutan Rasulullah saw Saat Kedatangan Bulan Suci Ramadhan

Sudah menjadi tradisi rasulullah saw, pembawa risalah penutup kenabian, saat bulan suci ramadhan tiba, beliau memberikan sebuah ultimatum kepada para sahabat untuk mempersiapkan diri dan cermat memanfaatkan setiap detik dalam ramadhan. Sebagaimana hadits yang dikutip oleh Dr.Sayyid Husein Al-‘Affany dalam "Nidaa’ Ar-Rayyan fi Fiqhi Shawmi wa Fadhly Ramadhan", yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasaa’I dari Abi Qilaabah dari Abi Hurairah, bahwa rasulullah saw mengabarkan para sahabatnya:
"Qad jaa’akum syahru ramadhan, syahrun mubaarok iftaradhallahu ‘alaikum shiyaamahu, yuftahu fiihi abwaabul jannah wa yughlaqu fiihi abwaabul jahiim, wa tughallu fiihi asy-syayaathiin, fiihi laylatun khoirun min alfi syahr, man harroma khoiroha faqad hurrima";
"Telah mengunjungimu bulan ramadhan, bulan penuh berkah yang Allah wajibkan atasmu berpuasa, dibuka pada masa itu pintu-pintu surga, dan ditutup pada saat yang sama pintu-pintu neraka, dan diikat setan-setan yang keji. Di dalam bulan ini, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang menjaga kesuciannya, maka ia telah disucikan".(HR.Ahmad dan An-Nasa’I)

Ibnu Rajab menilai bahwa hadits ini adalah dasar dari ucapan salam sejahtera bagi seluruh manusia akan datangnya bulan ramadhan. Bagaimana tidak (wa kaifa laa), hadits ini telah mengabarkan pada orang-orang yang beriman perihal dibukanya pintu-pintu surga, dan bagaimana tidak, hadits ini juga telah mengabarkan kepada para pendosa, pelakon kekejian dan kemungkaran, bahwa pintu neraka ditutup. Serta bagaimana tidak, hadits ini mengabarkan pada orang-orang yang berakal, bahwa bulan ini setan-setan telah dibatasi ruang geraknya. Intinya, hadits ini adalah kabar gembira yang telah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi manusia, untuk bertekad memperbaiki diri, mengislah perilaku dan perbuatan, dan merengkuh kenikmatan yang tiada tara untuk mencapai cita-cita insan yang bertakwa.

Setelah mendengarkan taushiyah yang amat berharga ini, mereka para sahabat berlomba-lomba mengharapkan kebaikan, yang mana terliput dalam untaian doa-doa mereka. Sebagaimana kesaksian Mu’la ibnu Al-Fadhl: "mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar disampaikan umurnya hingga bulan ramadhan, dan mereka memohon padaNya selama enam bulan agar Allah berkenan menerima segala amal ibadah yang telah diperbuat. Adapun kesaksian yang dikatakan Yahya ibnu Abi Katsir: "Diantara doa-doa yang sering mereka panjatkan dalam pengharapan dan penantian adalah: Allahumma sallimni ila romadhon, wa sallim lii romadhon, wa tusallimuhu minni mutaqobbala;Ya Allah, sampaikanlah aku pada ramadhan, dan sampaikan salamku untuknya, semoga Engkau menyampaikannya dariku dengan amalan yang Engkau ridhoi".

2.Ramadhan dan Muhasabah Diri

Kesucian ramadhan hendaknya menjadi sebuah cerminan bagi kita. Setahun telah kita lalui kehidupan penuh ragam cerita. Perilaku yang sehari-hari sedikit banyak telah memberikan beraneka warna dan corak kita dalam bermasyarakat, berhablun minan-naas dan berhablum minallah. Sebelum melangkah lebih lanjut menapaki bulan suci ini, hendaknya kita terlebih dahulu mensucikan diri, introspeksi akan seberapa kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan. Seberapa banyak kita telah menegakkan keadilan, dan seberapa banyak pula kita telah menyakiti hati orang-orang yang belum tentu bersalah. Seberapa banyak kita telah bersujud bersimpuh di hadapan Allah memohon pengampunan dan seberapa banyak pula kita hilang kesabaran, mencaci maki bawahan, yang status mereka belum tentu rendah di hadapan Allah. Seberapa banyak kita berdzikir dalam pagi dan petang, dan seberapa sering kita membuat orang lain kesal lagi gelisah dengan tingkah laku kita yang kadang kala tidak mengindahkan sopan santun dan tata krama.

Sekarang saatnya kita menyambut kembali ramadhan untuk sekian kalinya, dan kita kembali bertanya pada diri, seberapa kebaikan yang telah kita kerjakan. Seberapa dari sekian banyak kebaikan yang sejak dini telah kita niatkan ikhlas karena Allah semata. Kembali kita menghitung-hitung lembaran-lembaran amal perbuatan yang telah setahun berlalu. "Hasibuu anfusakum qobla an tuhaasabu" demikian Sang pemilik wahyu berfirman menegur hamba-hambaNya di muka bumi ini.

Telah banyak saudara-saudara kita, yang dahulu bersama-sama kita berpuasa, shalat berdampingan, berdoa serentak mengamini, dan melantunkan ayat-ayat suci dalam tadarus bersama, namun dalam kesempatan ramadhan kali ini, mereka tidak lagi bersama. Ada yang telah dipanggil ke pangkuan Ilahi karena batas usia, ada yang terjebak dalam jeruji penjara akibat narkoba, ada yang tergulung dalam kedahsyatan amukan gelombang tsunami di tanah rencong akhir tahun silam, ada yang jasadnya hangus terbakar tak dapat dikenali dalam suatu musibah kecelakaan pesawat, ada yang terhenyak napasnya terhimpit dalam timbunan musibah tanah longsor, dan ada pula yang sekarang sedang berjuang mempertahankan hidup di ruang-ruang bangsal rumah sakit. "Fa bi ayyi aalaa’I robbikumaa tukadz-dzibaan?";"Maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan?".

Allah ‘azza wa jalla berfirman, dan Dialah yang Maha benar perkataanNya: "Yaa ayyuhannaasut-taquu robbakum wakhsyaw yawman laa yajzii waalidun ‘an waladihi wa laa mawluudun huwa jaazin’an waalidihi syai’an. Inna wa’dallahi haqqun falaa taghurronnakumul hayaatud-dunyaa walaa yaghurronnakum billaahil ghuruur. Innallaha ‘indahu ‘ilmus-saa’ati wa yunnazzilul ghaitsa wa ya’lamu maa fil arhaami wa maa tadrii nafsun maadzaa taksibu ghodhan wa maa tadri nafsun bi ayyi ardhin tamuutu. Innallaha ‘aliimun khobiir";
"Hai manusia bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari (yang pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya sedikitpun. Dan tidak pula sebaliknya. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka jangan sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam mentaati Allah; Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".(QS.Luqman:33-34).

Begitu pula firman Allah swt, dalam QS.Qaaf:16-20 :

"Walaqad kholaqnal insaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihi nafsuhu wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil wariid. Idz yatalaqqal mutalaqqiyaani ‘anil yamiini wa ‘anisy-syimaali qa’iidun. Maa yalfidzhu min qawlin illaa ladaihi raqiibun ‘atiid. Wa jaa’at sakrotul mawti bil haqqi dzaalika maa kuntu minhu tahiid. Wa nufikhoo fish-shuuri dzaalika yawmul wa’iid";
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. (QS.Qaaf:16-20)

3. Ramadhan Sebagai Media Taubat

Jika Allah Yang Maha Suci telah mengabarkan kita bahwa syetan-syetan dibelenggu pada bulan ramadhan, maka maksud disini adalah syayathiinal jin (baca: syetan-syetan yang berwujud jin). Adapun syayathiinal ins (baca: syetan-syetan yang berwujud manusia) adalah mereka yang tidak pernah peduli dengan kematian, dan tidak takut pada Tuhannya, maka dengan itu mereka berbuat keonaran di muka bumi yang disusul dengan kerusakan disana-sini, serta menyebarkan fitnah dan kebencian. Kini ramadhan telah mengetuk pintu batin kita, masihkah kita akan mendapati umat islam terombang-ambing bagai buih di lautan?

Syahru ramadhan adalah waktu yang terbaik sepanjang masa. Segala keutamaan dan berkah melimpah ruah pada bulan ini. Maka akankah kita terus melewati satu kesempatan emas ini tanpa menanamkan benih niat keikhlasan, lalu merangkainya dengan bunga rampai ibadah kemudian mengetam panennya berupa takwa dan akhlak mulia?

Mari, kini saatnya kita berbenah diri, memanfaatkan nuansa kenikmatan ramadhan sebagai pengejawantahan syukur kita padaNya. Setiap bani adam tidak pernah lepas dari salah dan dosa. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang mau bertaubat. Sebesar apapun kadar kesalahan dan dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima taubat. Dan telah menjadi sebuah irama bertaubat, bahwa taubat yang niscaya Allah mengabulkannya adalah taubatan nasuha yakni taubat dengan sebenar-benarnya taubat yang terlahir dari kesungguhan diri dan keihklasan hati nurani.

Wahai yang menodai anggota tubuhnya dengan hal-hal yang Allah tidak meridhoi-Nya. Wahai yang berbuat dengan pendengaran dan lisannya, yang Allah menciptakannya suci dari khiyanat, dusta, dan fitnah. Wahai yang melihat dengan penglihatannya, yang Allah karuniakan mata untuknya dengan kesucian cahayaNya. Tidakkah engkau tumbuhkan rasa malu dan takut pada dirimu akan Allah Yang mengetahui segala gerak-gerik, jejak langkah dan yang terbetik dalam hatimu? Tidakkah kau sadari bahwa kelak anggota tubuh ini akan menjadi saksi pada hari dimana tidak seorangpun sanggup mengelak dari kesalahan-kesalahannya. "Yawma laa tamliku nafsun linafsin syai’an wal amru yawmaidzin lillaah" ; "Hari ketika seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah"(QS.At-Takwir:19)

Tidakkah engkau ketahui di bumi ini ada yang Allah tidak karuniakan baginya anggota tubuh yang sempurna. Seberapa banyak dari mereka yang tidak mendengar sedari lahir, seberapa banyak dari mereka yang kehilangan sepasang penglihatannya, dan seberapa pula yang berjalan dengan kepayahan. Tidakkah cukup hal itu untuk kita mensyukuri nikmatNya yang teragung?

Mari, sebelum kita menapaki ramadhan yang suci ini, hendaklah kita sucikan terlebih dahulu wajah-wajah kita yang keruh penuh dosa, tangan dan kaki kita yang kerap jadi perkara, serta mata, telinga dan lidah kita yang sering menjadi prahara antar sesama, begitu halnya hati kita yang terlena dengan berbagai buruknya prasangka. "Yaa ayyuhalladziina aamanuu, tuubuu ilallahi tawbatan nasuuha, ‘asaa robbukum an yukaffira ‘ankum sayyi’aatikum wa yudkhilakum jannaatin tajrii min tahtihal anhaar";
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai" (QS.Ath-Tahrim:8)

Semoga segala langkah, harapan dan cita-cita yang kita lakukan demi menjadi insan Allah yang bertakwa, mendapatkan keridhoanNya. Sehingga kita menyambut kembali ramadhan ini dengan optimisme dan kebersihan diri. Marhaban Ya Ramadhan, ramadhan penuh arti, ramadhan selalu di hati, ramadhan selalu dinanti.
Allahu A’lam bishawab.

*)Mahasiswa program S1 tingkat akhir, fak.Theologi Islam, dept.Tafsir dan ‘Ulumul Qur’an, Al-Azhar University, Cairo & Anggota divisi wakaf BWAKM Cairo.

Sumber:
- Dr.Sa’id Husein Al-Affany, Nida’ Ar-Rayyaan fi Fiqh Shawm wa Fadhly Ramadhan, Daar el-Bayan, Mesir.
- Jamal Sa’ad Hatim, Ramadhan wa Muraja’ah an-Nafs, Majalah At-Tawheed, Ramadhan 1423H, Mesir.