Monday, October 03, 2005

Ramadhan di hati Ramadhan di nanti

Oleh: Al Birruni Siregar*)

Tidak kita sangka, bulan ramadhan datang kembali menemui kekasih-kekasih Allah di bumi ini. Bulan yang penuh berkah, rahmah, dan maghfirah kembali menghampiri kita, kaum muslimin sedunia. Bulan yang mana segala perilaku baik bernilai ibadah, yang dilipatgandakan ganjarannya. Bulan yang mana hamba-hamba Allah yang beriman, tekun beribadah mengharap ridhoNya. Bulan yang mana terukir sejarah diturunkan Al-Qur’an, petunjuk bagi semesta alam. Bulan yang mana manusia-manusia yang beriman dimanjakan dengan doa-doa yang mereka panjatkan senantiasa dalam pengabulanNya. Dan yang lebih spesifik dari bulan ini adalah laitul qadar, yaitu malam yang diberkahi oleh Yang Maha Pengasih, dimana kadar kebaikan yang ditunaikan dalam satu malam ini setara dengan seribu bulan.

Ramadhan, begitu Sang Khaliq menyematkan nama untuk sekuntum bunga harapan, yang menebarkan wewangian rahmat dan maghfirah dariNya, membangkitkan semangat para mujahid fi sabilillah. Ramadhan, demikian Dzul Jalali wal Ikram membubuhkan nama untuk bulan ke sembilan dari keduabelas bulan dalam tahun hijriyah al-qomariyah, meredakan kericuhan antar sesama, meleburkan hati yang panas dengan angin segarnya, dan meruntuhkan keegoan diri dengan saling bersalam-salaman usai tarawih berjamaah. Ramadhan, begitulah Ar-Rahman menamakannya, "sayyidusy syuhuur wa taajun ‘ala mufarriqil ayyaami wad duhuur"; "tuan dari seluruh bulan dan mahkota yang menjadi pembeda dan pemisah sepanjang hari dan masa". Ramadhan, kesejukanmu bagaikan musim semi bagi insan yang bertakwa, yang telah menebar pesona keharuman dan kenikmatan. Ramadhan, "anta yuusufuz zamaan fi ‘aini ya’quubil iimaan" ;engkau bagaikan Yusuf a.s sepanjang zaman di mata Ya’qub yang sarat akan nuansa iman, keelokanmu yang rupawan, telah mencuri hati insan yang beriman.

Wahai Ramadhan, kini kami ucapkan "Ahlan wa Sahlan wa Marhaban Yaa Ramadhan"; "Selamat datang wahai bulan jelita yang membawa cerita penuh suka cita, kami selalu menantimu dalam harapan menyongsong kehidupan kelak yang kekal abadi".

1. Sambutan Rasulullah saw Saat Kedatangan Bulan Suci Ramadhan

Sudah menjadi tradisi rasulullah saw, pembawa risalah penutup kenabian, saat bulan suci ramadhan tiba, beliau memberikan sebuah ultimatum kepada para sahabat untuk mempersiapkan diri dan cermat memanfaatkan setiap detik dalam ramadhan. Sebagaimana hadits yang dikutip oleh Dr.Sayyid Husein Al-‘Affany dalam "Nidaa’ Ar-Rayyan fi Fiqhi Shawmi wa Fadhly Ramadhan", yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasaa’I dari Abi Qilaabah dari Abi Hurairah, bahwa rasulullah saw mengabarkan para sahabatnya:
"Qad jaa’akum syahru ramadhan, syahrun mubaarok iftaradhallahu ‘alaikum shiyaamahu, yuftahu fiihi abwaabul jannah wa yughlaqu fiihi abwaabul jahiim, wa tughallu fiihi asy-syayaathiin, fiihi laylatun khoirun min alfi syahr, man harroma khoiroha faqad hurrima";
"Telah mengunjungimu bulan ramadhan, bulan penuh berkah yang Allah wajibkan atasmu berpuasa, dibuka pada masa itu pintu-pintu surga, dan ditutup pada saat yang sama pintu-pintu neraka, dan diikat setan-setan yang keji. Di dalam bulan ini, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang menjaga kesuciannya, maka ia telah disucikan".(HR.Ahmad dan An-Nasa’I)

Ibnu Rajab menilai bahwa hadits ini adalah dasar dari ucapan salam sejahtera bagi seluruh manusia akan datangnya bulan ramadhan. Bagaimana tidak (wa kaifa laa), hadits ini telah mengabarkan pada orang-orang yang beriman perihal dibukanya pintu-pintu surga, dan bagaimana tidak, hadits ini juga telah mengabarkan kepada para pendosa, pelakon kekejian dan kemungkaran, bahwa pintu neraka ditutup. Serta bagaimana tidak, hadits ini mengabarkan pada orang-orang yang berakal, bahwa bulan ini setan-setan telah dibatasi ruang geraknya. Intinya, hadits ini adalah kabar gembira yang telah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi manusia, untuk bertekad memperbaiki diri, mengislah perilaku dan perbuatan, dan merengkuh kenikmatan yang tiada tara untuk mencapai cita-cita insan yang bertakwa.

Setelah mendengarkan taushiyah yang amat berharga ini, mereka para sahabat berlomba-lomba mengharapkan kebaikan, yang mana terliput dalam untaian doa-doa mereka. Sebagaimana kesaksian Mu’la ibnu Al-Fadhl: "mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar disampaikan umurnya hingga bulan ramadhan, dan mereka memohon padaNya selama enam bulan agar Allah berkenan menerima segala amal ibadah yang telah diperbuat. Adapun kesaksian yang dikatakan Yahya ibnu Abi Katsir: "Diantara doa-doa yang sering mereka panjatkan dalam pengharapan dan penantian adalah: Allahumma sallimni ila romadhon, wa sallim lii romadhon, wa tusallimuhu minni mutaqobbala;Ya Allah, sampaikanlah aku pada ramadhan, dan sampaikan salamku untuknya, semoga Engkau menyampaikannya dariku dengan amalan yang Engkau ridhoi".

2.Ramadhan dan Muhasabah Diri

Kesucian ramadhan hendaknya menjadi sebuah cerminan bagi kita. Setahun telah kita lalui kehidupan penuh ragam cerita. Perilaku yang sehari-hari sedikit banyak telah memberikan beraneka warna dan corak kita dalam bermasyarakat, berhablun minan-naas dan berhablum minallah. Sebelum melangkah lebih lanjut menapaki bulan suci ini, hendaknya kita terlebih dahulu mensucikan diri, introspeksi akan seberapa kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan. Seberapa banyak kita telah menegakkan keadilan, dan seberapa banyak pula kita telah menyakiti hati orang-orang yang belum tentu bersalah. Seberapa banyak kita telah bersujud bersimpuh di hadapan Allah memohon pengampunan dan seberapa banyak pula kita hilang kesabaran, mencaci maki bawahan, yang status mereka belum tentu rendah di hadapan Allah. Seberapa banyak kita berdzikir dalam pagi dan petang, dan seberapa sering kita membuat orang lain kesal lagi gelisah dengan tingkah laku kita yang kadang kala tidak mengindahkan sopan santun dan tata krama.

Sekarang saatnya kita menyambut kembali ramadhan untuk sekian kalinya, dan kita kembali bertanya pada diri, seberapa kebaikan yang telah kita kerjakan. Seberapa dari sekian banyak kebaikan yang sejak dini telah kita niatkan ikhlas karena Allah semata. Kembali kita menghitung-hitung lembaran-lembaran amal perbuatan yang telah setahun berlalu. "Hasibuu anfusakum qobla an tuhaasabu" demikian Sang pemilik wahyu berfirman menegur hamba-hambaNya di muka bumi ini.

Telah banyak saudara-saudara kita, yang dahulu bersama-sama kita berpuasa, shalat berdampingan, berdoa serentak mengamini, dan melantunkan ayat-ayat suci dalam tadarus bersama, namun dalam kesempatan ramadhan kali ini, mereka tidak lagi bersama. Ada yang telah dipanggil ke pangkuan Ilahi karena batas usia, ada yang terjebak dalam jeruji penjara akibat narkoba, ada yang tergulung dalam kedahsyatan amukan gelombang tsunami di tanah rencong akhir tahun silam, ada yang jasadnya hangus terbakar tak dapat dikenali dalam suatu musibah kecelakaan pesawat, ada yang terhenyak napasnya terhimpit dalam timbunan musibah tanah longsor, dan ada pula yang sekarang sedang berjuang mempertahankan hidup di ruang-ruang bangsal rumah sakit. "Fa bi ayyi aalaa’I robbikumaa tukadz-dzibaan?";"Maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan?".

Allah ‘azza wa jalla berfirman, dan Dialah yang Maha benar perkataanNya: "Yaa ayyuhannaasut-taquu robbakum wakhsyaw yawman laa yajzii waalidun ‘an waladihi wa laa mawluudun huwa jaazin’an waalidihi syai’an. Inna wa’dallahi haqqun falaa taghurronnakumul hayaatud-dunyaa walaa yaghurronnakum billaahil ghuruur. Innallaha ‘indahu ‘ilmus-saa’ati wa yunnazzilul ghaitsa wa ya’lamu maa fil arhaami wa maa tadrii nafsun maadzaa taksibu ghodhan wa maa tadri nafsun bi ayyi ardhin tamuutu. Innallaha ‘aliimun khobiir";
"Hai manusia bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari (yang pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya sedikitpun. Dan tidak pula sebaliknya. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka jangan sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam mentaati Allah; Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".(QS.Luqman:33-34).

Begitu pula firman Allah swt, dalam QS.Qaaf:16-20 :

"Walaqad kholaqnal insaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihi nafsuhu wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil wariid. Idz yatalaqqal mutalaqqiyaani ‘anil yamiini wa ‘anisy-syimaali qa’iidun. Maa yalfidzhu min qawlin illaa ladaihi raqiibun ‘atiid. Wa jaa’at sakrotul mawti bil haqqi dzaalika maa kuntu minhu tahiid. Wa nufikhoo fish-shuuri dzaalika yawmul wa’iid";
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. (QS.Qaaf:16-20)

3. Ramadhan Sebagai Media Taubat

Jika Allah Yang Maha Suci telah mengabarkan kita bahwa syetan-syetan dibelenggu pada bulan ramadhan, maka maksud disini adalah syayathiinal jin (baca: syetan-syetan yang berwujud jin). Adapun syayathiinal ins (baca: syetan-syetan yang berwujud manusia) adalah mereka yang tidak pernah peduli dengan kematian, dan tidak takut pada Tuhannya, maka dengan itu mereka berbuat keonaran di muka bumi yang disusul dengan kerusakan disana-sini, serta menyebarkan fitnah dan kebencian. Kini ramadhan telah mengetuk pintu batin kita, masihkah kita akan mendapati umat islam terombang-ambing bagai buih di lautan?

Syahru ramadhan adalah waktu yang terbaik sepanjang masa. Segala keutamaan dan berkah melimpah ruah pada bulan ini. Maka akankah kita terus melewati satu kesempatan emas ini tanpa menanamkan benih niat keikhlasan, lalu merangkainya dengan bunga rampai ibadah kemudian mengetam panennya berupa takwa dan akhlak mulia?

Mari, kini saatnya kita berbenah diri, memanfaatkan nuansa kenikmatan ramadhan sebagai pengejawantahan syukur kita padaNya. Setiap bani adam tidak pernah lepas dari salah dan dosa. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang mau bertaubat. Sebesar apapun kadar kesalahan dan dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima taubat. Dan telah menjadi sebuah irama bertaubat, bahwa taubat yang niscaya Allah mengabulkannya adalah taubatan nasuha yakni taubat dengan sebenar-benarnya taubat yang terlahir dari kesungguhan diri dan keihklasan hati nurani.

Wahai yang menodai anggota tubuhnya dengan hal-hal yang Allah tidak meridhoi-Nya. Wahai yang berbuat dengan pendengaran dan lisannya, yang Allah menciptakannya suci dari khiyanat, dusta, dan fitnah. Wahai yang melihat dengan penglihatannya, yang Allah karuniakan mata untuknya dengan kesucian cahayaNya. Tidakkah engkau tumbuhkan rasa malu dan takut pada dirimu akan Allah Yang mengetahui segala gerak-gerik, jejak langkah dan yang terbetik dalam hatimu? Tidakkah kau sadari bahwa kelak anggota tubuh ini akan menjadi saksi pada hari dimana tidak seorangpun sanggup mengelak dari kesalahan-kesalahannya. "Yawma laa tamliku nafsun linafsin syai’an wal amru yawmaidzin lillaah" ; "Hari ketika seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah"(QS.At-Takwir:19)

Tidakkah engkau ketahui di bumi ini ada yang Allah tidak karuniakan baginya anggota tubuh yang sempurna. Seberapa banyak dari mereka yang tidak mendengar sedari lahir, seberapa banyak dari mereka yang kehilangan sepasang penglihatannya, dan seberapa pula yang berjalan dengan kepayahan. Tidakkah cukup hal itu untuk kita mensyukuri nikmatNya yang teragung?

Mari, sebelum kita menapaki ramadhan yang suci ini, hendaklah kita sucikan terlebih dahulu wajah-wajah kita yang keruh penuh dosa, tangan dan kaki kita yang kerap jadi perkara, serta mata, telinga dan lidah kita yang sering menjadi prahara antar sesama, begitu halnya hati kita yang terlena dengan berbagai buruknya prasangka. "Yaa ayyuhalladziina aamanuu, tuubuu ilallahi tawbatan nasuuha, ‘asaa robbukum an yukaffira ‘ankum sayyi’aatikum wa yudkhilakum jannaatin tajrii min tahtihal anhaar";
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai" (QS.Ath-Tahrim:8)

Semoga segala langkah, harapan dan cita-cita yang kita lakukan demi menjadi insan Allah yang bertakwa, mendapatkan keridhoanNya. Sehingga kita menyambut kembali ramadhan ini dengan optimisme dan kebersihan diri. Marhaban Ya Ramadhan, ramadhan penuh arti, ramadhan selalu di hati, ramadhan selalu dinanti.
Allahu A’lam bishawab.

*)Mahasiswa program S1 tingkat akhir, fak.Theologi Islam, dept.Tafsir dan ‘Ulumul Qur’an, Al-Azhar University, Cairo & Anggota divisi wakaf BWAKM Cairo.

Sumber:
- Dr.Sa’id Husein Al-Affany, Nida’ Ar-Rayyaan fi Fiqh Shawm wa Fadhly Ramadhan, Daar el-Bayan, Mesir.
- Jamal Sa’ad Hatim, Ramadhan wa Muraja’ah an-Nafs, Majalah At-Tawheed, Ramadhan 1423H, Mesir.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home