Tuesday, November 08, 2005

Puasa dan Loyalitas Keimanan

Oleh: Al Birruni Siregar*)

Dalam QS.Al Baqarah: 183 Allah Swt berfirman: "Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu kutiba `alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba `alladziina min qoblikum la'allakum tattaquun";"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang yang bertakwa".
Puasa di bulan ramadhan adalah salah satu dari lima pilar rukun islam. Digolongkannya ibadah ini sebagai salah satu syarat tegaknya keislaman seseorang menjadi poin penting dalam membangun kecerdasan rohani.

Puasa yang dalam bahasa arab disebut shiyam atau shaum, mengandung makna menahan atau mencegah diri melakukan sesuatu dalam rentang waktu tertentu (al-imsaak wal kaffu `an asy-syai'). Sedangkan puasa dalam istilah syar'i menurut Dr.Wahbah Al Zuhaily, adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh suami isteri (jima') serta berbagai hal yang merusaknya atau membatalkannya dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Dalam konteks ayat diatas Allah menyeru "Ya ayyuhalladziina Aamanuu"; "Wahai orang-orang yang beriman".Salah satu sahabat nabi, seorang mufassir terkenal Abdullah ibnu Mas'ud mengatakan, bahwa apabila suatu ayat dimulai dengan panggilan kepada orang yang terpercaya, sebelum sampai ke akhirnya, kita sudah dapat memastikan bahwa ayat ini akan mengandung perihal yang penting atau suatu larangan yang berat. Karena Allah Yang Maha Tahu (Al `Aliim) telah memperhitungkan bahwa yang bersedia memikul perintah Tuhannya hanya orang – orang yang beriman. Buya Hamka dalam karyanya tafsir Al Azhar mengatakan bahwa orang yang merasa dirinya ada benih keimanan bersedia menunggu, apa perintah yang akan dipikulnya itu. Dan dia akan bersedia merubah kebiasaannya, menahan nafsunya dan bersedia pula bangun di waktu sahur serta menahan seleranya membatasi diri melakukan latihan yang agak berat, demi mencapai keridhaan Tuhannya.

Kata "Kamaa kutiba `alalladziina min qoblikum" ; "Sebagaimana telah diperintahkan kepada umat-umat sebelum kamu", mengindikasikan bahwa perintah puasa telah ada sejak dahulu, sebelum diutusnya Muhammad saw dalam risalah kenabian.

Sebagaimana Nabi Musa a.s pernah berpuasa 40 hari. Begitu pula orang-orang Yahudi masih tetap melakukan puasa pada hari-hari tertentu, seperti puasa satu minggu sebagai peringatan hancurnya Jerussalem dan diambilnya kembali. Begitu juga, puasa umat Kristen yang terkenal yaitu Puasa Besar sebelum hari paskah. Dalam agama Mesir purbakalapun juga ada peraturan puasa, terutama pada kaum perempuan. Demikian halnya bangsa Romawi sebelum masehipun berpuasa. Begitupun dahulu, Nabi Zakaria a.s dan Maryam, ibunda nabi Isa a.s berpuasa dari tidak makan, tidak minum, tidak bersetubuh dan juga tidak berbicara pada rentang waktu tertentu.

Adapun hikmah dan faedah dari menunaikan ibadah puasa adalah menciptakan kepribadian yang bersendikan taqwa ("la'allakum tattaquun"). Takwa yang dihasilkan dari menahan dua syahwat yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, yaitu syahwat faraj atau sex, dan syahwat perut. Seandainya keduanya tiada terkendali, maka tidak mustahil kemanusiaan (humanity) dari manusia akan merosot, runtuh, dan hancur bertukar menjadi kebinatangan. Dalam hal ini,puasa memberikan kendali bagi manusia dalam meningkatkan harga dirinya. Tiada yang berarti dari nilai puasa itu selain dari kesabaran yang tinggi, sebagaimana rasulullah saw bersabda: "Ash-shiyamu nishfu shabr";"Puasa adalah separuh dari kesabaran" (HR.Ibnu Majah).

Ramadhan adalah bulan penuh hikmah, bertabur berkah, bersemi didalamnya suasana hari bernuansakan keindahan, kesejukan dan kedamaian yang tiada terkira keutamaannya dibandingkan dua belas bulan lainnya. Bulan yang penuh dengan kenangan-kenangan bersejarah. Diturunkannya al Qur'an sebagai kitab suci petunjuk bagi ummat manusia, diutusnya seorang Muhammad saw, manusia suci yang sarat kesempurnaan, sebagai nabi dan rasulNya. Terjadinya kemenangan terbesar umat islam dalam sejarah peperangan pada medan badar. Dimuliakannya satu malam Qodar, yang memiliki keutamaan berlimpah pahala, yang mana nilai ibadah pada malam itu sebanding dengan ibadah dalam seribu bulan. Semua peristiwa itu terjadi dalam bulan yang sama, yaitu bulan suci ramadhan.

Allah swt telah memilih bulan ini sebagai bulan puasa. "Ayyaaman ma'duudaat", yaitu puasa pada hari-hari yang
terbilang. Bulan yang membimbing hamba-hambaNya larut dalam ketekunan beribadah, menahan diri dari kenikmatan makan, kesegaran air minum pengentas dahaga, serta kepuasan berjima' suami dan istri pada siang hari. Ada dimensi kedisiplinan, ada pula aspek ketaatan. Tiada hal yang dapat menjamin utuhnya ketaatan dan kedisiplinan itu, selain berpangkal dari niat ikhlas dan sabar yang tak lekang dengan bertumpu
pada loyalitas keimanan.(God as a single purpose).

Maka dari itu, bersamaan dengan hadirnya kembali bulan ramadhan ini, mari kita mulai luruskan tujuan, kita pertahankan nilai suci dari ibadah dengan memurnikan niat semata karena Allah `Azza wa Jalla, untuk kemudian kita raih bersama predikat takwa. Yakni takwa dalam koridor makna sebenar-benarnya takwa, yang tidak hanya tersekat dalam ruang dan waktu yang bernama ramadhan, namun berlanjut seterusnya selepas bulan ini berlalu. Memulai suatu kebaikan adalah mudah, namun menjaganya dalam kontinuitas dan istiqomah (konsistensi) membutuhkan niat ikhlas dan kesabaran. Tulus dan ikhlas adalah awal dari kebaikan, sedangkan kesabaran akan terus mengiringi berjalannya kebaikan itu.

Allahu A'lam bish-shawaab.

*)Mahasiswa program S1 Fakultas Ushuluddin, Dept.Tafsir, Universitas Al Azhar, Kairo.

Lebaran Cara Rasulullah

Oleh Bayu Gawtama

Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan
penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di
wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali
meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki
melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah
lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu
segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan
saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki
terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan.
"Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?"
lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik
segukan sang gadis.

Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang
menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu
seperti mencari sesosok yang amat ia rindui
kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia
menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk
merayakan hari kemenangan. "Ayahku mati syahid dalam
sebuah peperangan bersama Rasulullah," tutur gadis
kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang
Ayahnya.

Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. "Maukah
engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad
Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan
serta Husain menjadi saudaramu?" Sadarlah gadis itu
bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak
lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang
senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak
ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu
seorang Ummul Mukminin?

Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil
yang bersedih di hari raya kembali tersenyum.
Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta
dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak
yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya
untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah
airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.


***

Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian
bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat
bersilaturahim di hari kemenangan itu. Namun tak dapat
dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita,
memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin
budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa Rasul pun
memakai pakaian yang bagus di hari raya. Tidak sedikit
uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran, bahkan
bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru
disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di
Indonesia yang lebih dari satu hari.

Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil
sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan
bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik.
Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita
menggapai sukses penuh arti selama satu bulan
menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena,
bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara
berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan,
yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian
yang lebih pantas di hari istimewa.

Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang
baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan
sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa
cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan
pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan
pakaian baru untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau
Ibu yang akan mengajak mereka menyambangi pertokoan
dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah kita
bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh
rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru,
sementara baju yang mereka kenakan sudah usang.

Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran,
tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju
bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan
Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan
hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah
kita meniru cara Rasul berlebaran?

Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk
anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari
rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian
bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim
tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak
hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu juga
milik mereka.

Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul).
Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya
di berbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi
orang-orang beruntung seperti kita yang mau
membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak
yatim yang tercipta di hari bahagia.