Tuesday, November 08, 2005

Lebaran Cara Rasulullah

Oleh Bayu Gawtama

Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan
penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di
wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali
meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki
melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah
lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu
segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan
saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki
terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan.
"Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?"
lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik
segukan sang gadis.

Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang
menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu
seperti mencari sesosok yang amat ia rindui
kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia
menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk
merayakan hari kemenangan. "Ayahku mati syahid dalam
sebuah peperangan bersama Rasulullah," tutur gadis
kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang
Ayahnya.

Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. "Maukah
engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad
Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan
serta Husain menjadi saudaramu?" Sadarlah gadis itu
bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak
lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang
senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak
ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu
seorang Ummul Mukminin?

Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil
yang bersedih di hari raya kembali tersenyum.
Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta
dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak
yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya
untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah
airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.


***

Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian
bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat
bersilaturahim di hari kemenangan itu. Namun tak dapat
dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita,
memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin
budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa Rasul pun
memakai pakaian yang bagus di hari raya. Tidak sedikit
uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran, bahkan
bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru
disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di
Indonesia yang lebih dari satu hari.

Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil
sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan
bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik.
Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita
menggapai sukses penuh arti selama satu bulan
menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena,
bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara
berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan,
yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian
yang lebih pantas di hari istimewa.

Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang
baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan
sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa
cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan
pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan
pakaian baru untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau
Ibu yang akan mengajak mereka menyambangi pertokoan
dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah kita
bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh
rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru,
sementara baju yang mereka kenakan sudah usang.

Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran,
tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju
bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan
Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan
hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah
kita meniru cara Rasul berlebaran?

Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk
anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari
rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian
bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim
tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak
hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu juga
milik mereka.

Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul).
Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya
di berbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi
orang-orang beruntung seperti kita yang mau
membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak
yatim yang tercipta di hari bahagia.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home